Memulai bisnis makanan terlihat sederhana. Tinggal menentukan produk, membuat kemasan, memasarkannya, lalu menjual kepada konsumen. Namun, ketika bisnis mulai dijalankan secara serius, muncul satu pertanyaan penting:
Lebih menguntungkan menggunakan jasa maklon makanan atau memproduksi sendiri?
Pertanyaan ini sangat penting bagi UMKM karena keputusan produksi akan berpengaruh langsung terhadap modal, biaya operasional, kualitas produk, kecepatan peluncuran, risiko bisnis, hingga kemampuan perusahaan dalam mengembangkan brand.
Bagi pemula, membangun fasilitas produksi sendiri memang terlihat menarik karena merasa memiliki kendali penuh terhadap proses produksi. Namun, produksi sendiri juga membutuhkan investasi yang tidak sedikit. Selain tempat produksi, pelaku usaha perlu memikirkan peralatan, tenaga kerja, bahan baku, standar kebersihan, pengawasan mutu, legalitas, penyimpanan, hingga konsistensi produk.
Di sisi lain, maklon makanan memungkinkan pemilik brand menggunakan fasilitas dan kemampuan produksi perusahaan lain berdasarkan kerja sama atau kontrak. Dengan demikian, pemilik brand dapat lebih fokus pada pengembangan produk, pemasaran, penjualan, dan pembangunan merek.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sendiri mengenal pangan olahan yang diproduksi berdasarkan kontrak atau manufacturing/makloon. Dalam skema ini, penerima kontrak merupakan industri pangan yang menerima pekerjaan produksi berdasarkan kontrak, sedangkan pemberi kontrak menggunakan sarana produksi pihak lain.
Lalu, mana yang sebenarnya lebih menguntungkan untuk UMKM?
Jawabannya tidak selalu sama untuk setiap bisnis. Namun, bagi UMKM yang masih membangun pasar dan ingin mengurangi investasi awal, maklon makanan sering kali menjadi pilihan yang lebih efisien.
Mari kita bahas secara lengkap.
Apa Itu Maklon Makanan?
Maklon makanan adalah sistem kerja sama ketika sebuah perusahaan atau pemilik brand menggunakan fasilitas produksi perusahaan lain untuk membuat produk makanan sesuai kesepakatan.
Sederhananya:
Anda memiliki brand dan konsep produk, sedangkan perusahaan maklon membantu memproduksi produk tersebut.
Dalam praktiknya, cakupan kerja sama dapat berbeda-beda. Ada perusahaan maklon yang menyediakan formulasi produk, pengadaan bahan baku, proses produksi, pengemasan, hingga membantu proses dokumentasi dan legalitas sesuai lingkup layanan yang disepakati.
Contohnya, seseorang ingin memiliki brand abon sendiri.
Daripada membeli mesin produksi, menyewa fasilitas, merekrut tenaga kerja, menyiapkan area produksi, dan membangun sistem pengawasan mutu sendiri, pemilik brand dapat bekerja sama dengan perusahaan maklon abon.
Produk kemudian diproduksi sesuai spesifikasi yang telah disepakati.
Model seperti ini sangat menarik bagi UMKM karena memungkinkan seseorang menjadi brand owner tanpa harus langsung menjadi pemilik pabrik.
Maklon Makanan vs Produksi Sendiri
Untuk melihat mana yang lebih cocok, kita dapat membandingkan keduanya dari beberapa aspek.
| Aspek | Maklon Makanan | Produksi Sendiri |
|---|---|---|
| Modal awal | Relatif lebih rendah | Bisa lebih besar |
| Fasilitas produksi | Menggunakan fasilitas maklon | Harus menyediakan sendiri |
| Mesin | Tidak perlu membeli seluruh mesin | Perlu investasi mesin |
| Tenaga kerja | Dibantu pihak maklon sesuai kesepakatan | Merekrut sendiri |
| Pengawasan | Mengikuti sistem perusahaan maklon | Dikendalikan sendiri |
| Pengembangan brand | Bisa lebih fokus | Terbagi dengan urusan produksi |
| Kecepatan memulai | Cenderung lebih cepat | Bisa lebih lama |
| Kapasitas produksi | Mengikuti kemampuan maklon | Mengikuti kapasitas sendiri |
| Risiko investasi | Relatif lebih rendah | Lebih tinggi |
| Kontrol produksi | Sesuai perjanjian dan sistem maklon | Kontrol langsung |
| Pengembangan fasilitas | Tidak menjadi beban utama pemilik brand | Menjadi tanggung jawab sendiri |
Dari tabel tersebut terlihat bahwa tidak ada pilihan yang mutlak paling baik.
Pilihan terbaik bergantung pada modal, kapasitas produksi, pengalaman, target pasar, dan strategi bisnis.
Kapan Sebaiknya Memilih Maklon Makanan?
Maklon sangat cocok jika Anda berada pada kondisi berikut:
1. Baru Memulai Brand
Anda ingin memiliki produk sendiri tetapi belum mempunyai fasilitas produksi.
2. Modal Terbatas
Modal lebih ingin digunakan untuk pemasaran dan penjualan.
3. Belum Memiliki Tim Produksi
Anda belum memiliki tenaga yang menguasai produksi pangan.
4. Ingin Menguji Pasar
Anda ingin mengetahui apakah produk diterima konsumen sebelum melakukan investasi besar.
5. Fokus pada Marketing
Kekuatan Anda berada di penjualan dan pemasaran.
6. Ingin Mempercepat Peluncuran
Anda tidak ingin membangun pabrik dari nol.
7. Ingin Menambah Produk
Brand sudah berjalan tetapi ingin menambahkan kategori baru tanpa membangun lini produksi baru.
Jangan Memilih Maklon Hanya Karena Harga Termurah
Harga murah memang menarik.
Tetapi dalam industri makanan, harga bukan satu-satunya faktor.
Harga terlalu murah bisa menjadi masalah jika ternyata:
- Kualitas bahan baku rendah
- Konsistensi produk buruk
- Kapasitas produksi tidak stabil
- Dokumentasi tidak jelas
- Quality control lemah
- Waktu produksi sering terlambat
- Komunikasi buruk
- Tidak transparan mengenai biaya tambahan
Untuk produk makanan, kualitas dan keamanan harus menjadi prioritas.
Lebih baik membandingkan beberapa perusahaan berdasarkan:
harga + kualitas + legalitas + fasilitas + pengalaman + pelayanan + konsistensi produksi.
